September 25, 2020
Breaking News
Film-Titisan-Setan-2018

Film Titisan Setan 2018

Film Titisan Setan 2018 -Jadi jika berdasarkan sinopsis itu, maka premis film horor ini adalah : “seorang cewek cantik dihantui oleh arwah ibunya di villa pacarnya”

Hmmmm, ide cerita horor yang terlalu generik untuk bisa lolos pitch. Bukan hanya generik, premis diatas merupakan premis asal-asalan karena karakter Melissa tidak punya keinginan yang kuat. Melissa bahkan tidak punya keinginan sama sekali untuk sebuah karakter utama yang harusnya menyetir plot cerita. joker888

Intention and Obstacle, Keinginan dan Hambatan adalah basis dari premis yang merupakan basis dari cerita. Tanpa keinginan yang kuat karakter menjadi karakter yang membosankan. (dan lucunya hal ini dilontarkan melalui dialognya Gaby tentang opininya terhadap Melissa. Self-conscious much?)emoticon-Big Grin

Jadi, rasanya tidak mungkin seorang datang ke produser lalu menjual premis asal-asalan di atas untuk film horor layar lebar, khususnya jika film ini mau bersaing dengan film horor lainnya (Pengabdi Setan aja baru tahun lalu). Jadi kemungkinan besar cerita film ini bukan ceritanya Melissa.

Lalu, sebenarnya film ini ceritanya siapa sih? Coba kita lihat karakter utama lainnya : Bara.

Intention and Obstacle, Apa keinginan Bara? Bara ingin esek-esek dengan Melissa. Dengan cara? Menginap bersama Melissa di villa bapaknya. Tapi? Gaby datang mengancam Bara untuk nurut atau Gaby akan melaporkan niat bejat Bara ke nenek Melissa, Obstacle. Dari sini, kita dapat resep seorang karakter utama yang punya keinginan kuat dan cara/taktik yang jelas untuk meraih keinginannya. Bara memiliki basis karakter yang menarik yaitu keinginan yang kuat.

Dengan keinginannya yang kuat, Bara sengaja membuat mobilnya mogok agar bisa menginap dengan Melissa. Bara juga akhirnya diperlihatkan adalah seorang penjahat kelamin yang menaruh CCTV di kamar Melissa. Bahkan sangking kuat keinginannya, Bara sampai mencoba untuk memperkosa Melissa.

Hambatannya pun cukup organik, Gaby datang karena dari awal Melissa berbohong ke neneknya kalau dia mau menjenguk ibunya Gaby di rumah sakit. Gaby tahu sifat asli Bara, juga soal Melissa yang sebenarnya berbohong karena Bara. Karena itu, Gaby datang untuk memanfaatkan situasi tersebut. Hambatan yang kedua datang dari hantu di cerita ini, kita akan kembali ke bahasan ini nanti.

Kita bicara soal pitch, apakah ada seorang yang mau membuat film dengan cerita : “Seorang pemuda psikopat ingin esek-esek, dengan cara menjebak dan memperkosa pacarnya di villa, tapi dia tidak bisa esek-esek karena didatangi tamu dan hantu tak diundang.” emoticon-Stick Out Tongue

Kita tahu Bara punya keinginan yang kuat, taktik yang masuk akal, dan hambatan yang sulit, tapi coba deh tanya ke diri sendiri : “Apakah aku mau membuat cerita seperti itu?”

Ya nggak, lah emoticon-Big Grin. Kenapa premis tersebut kurang Appeal, sebuah ketertarikan yang menyulut empati ke hati orang yang membaca premis itu. Kemungkinan besar empati tidak didapat ketika kita tahu kalo karakter utama keinginan terbesarnya kepingin ngentemoticon-Stick Out Tonguet. Keinginannya tidak bermoral dan diluar etika.

Jadi ada gak karakter yang memiliki keinginan yang kuat dan bisa menyulut empati orang-orang? well my friend, there is.

Bagian ini gak akan dibahas di review manapun (saya harap), karena reviewer memiliki proposisi bahwa Hantu di film horor ini adalah karakter utamanya. Mari saya buktikan.

Hantu di film Titisan Setan ini adalah Ibunya Melissa. Apa keinginan si Hantu?

Secara kasat mata, keinginan Hantu ini adalah melindungi Melissa. Keinginan inilah yang membuat si Hantu menolong Melissa dari perkosaan Bara. Namun, kata melindungi sepertinya kurang menjelaskan motif dari tindakan kenapa dia menghantui Melissa, Gaby, Saykoji dan Bara.

Kenapa Gaby dan Saykoji dibunuh oleh si Hantu Ibu ini padahal kerjanya cuma ngolok-ngolok Melissa? Kenapa si Hantu mencoba mencelakakan Melissa di kolam renang? Kenapa si Hantu tidak langsung membunuh Bara padahal dia harusnya tahu kalau Bara seorang mesum bejat?

Semua hal diatas sebenarnya memiliki motif yang sama : si Hantu ingin menjaga hubungan Melissa dan Bara. Mari kita lihat.

Kenapa si Hantu membunuh Gaby dan Saykoji yang cuman mengolok-ngolok, tapi tidak langsung membunuh Bara yang benar-benar mau memperkosa? Hal itu karena Gaby mengancam Bara untuk memberi tahu sifat asli Bara kepada Melissa, dan menurut si Hantu hal tersebut membahayakan hubungan Melissa dan Bara. Jadi dia mengusir lalu membunuh Gaby dan Saykoji agar Melissa tidak tahu sifat asli Bara. Keinginan si Hantu sangatlah kuat dan cara meraih keinginannya sangatlah ekstrim, dia membunuh teman Melissa untuk mempertahankan hubungan Melissa dengan Bara.

Keinginan kuat, check. taktik yang jelas, check. Lalu, apa hambatan nyata dalam mencapai keinginan si Hantu ini? Hambatan si Hantu inilah yang membuat karakter Hantu menjadi karakter berdimensi/yang dalam.

Hambatannya adalah fakta bahwa Bara ingin berlaku mesum kepada Melissa. Jika si Hantu membunuh Bara maka dia gagal dalam mencapai keinginannya. Hal inilah yang membuat si Hantu tidak langsung membunuh Bara. Si Hantu ini tahu bahwa Bara berniat jahat (lagipula dia itu hantu yang bisa nembus tembok) tapi, si Hantu seakan memberi kesempatan kepada Melissa untuk menerima Bara. Siapa tahu Melissa suka esek-esek sama Bara. emoticon-Stick Out Tongue

Si Hantu baru bertindak, ketika Bara mau memperkosa Melissa. si Hantu melempar Bara dari tubuh Melissa dan diapun tidak langsung membunuh Bara. Dia merasuki Bara dulu, mencoba untuk berkomunikasi kepada Melissa. Lalu, dia keluar dari tubuh Bara, masih belum dibunuh. Nah, Lalu ketika Bara mencoba membunuh Melissa, akhirnya si Hantu memutuskan untuk membunuh Bara. Dari situ kita lihat Melissa yang mengingat ibunya melalui flashback.

Tapi hal itu masih belum menjelaskan : kenapa harus sampai diakhir sih, baru Bara dibunuh?

Sepertinya keputusan tersebut berasal dari psikologi seorang hantu yang sudah mati. Si Hantu ibu ini merasa tidak mungkin membahagiakan anak perempuannya yang masih hidup. Sehingga, si Hantu berharap kalau hubungan anaknya, Melissa, dengan Bara membuahkan kehidupan bahagia. Itulah kenapa si Hantu menarik kaki Melissa di kolam, agar Bara menolong Melissa dengan berharap suatu situasi romantis muncul. Si ibu ingin anaknya bahagia.

Kesimpulannya, premis cerita ini jika si Hantu Ibu sebagai karakter utama dalah :

“Seorang ibu yang menjadi hantu ingin anaknya bahagia, dengan cara menjaga hubungan anaknya dengan pacarnya, tapi dia mendapat dilemma karena dia tahu kalau pacar anaknya adalah seorang psikopat”

Titisan Setan : Kasih Ibu yang Terlupakan.

Posted in sayo-itsuTagged
Flim-Lampor

Film Lampor

Film LamporSetiap daerah di Indonesia pasti punya kisah mistisnya masing-masing. Kisah mistis itu tak lepas dari kebiasaan dan kepercayaan para warganya. Misalnya saja ada hantu ponti di Pontianak, kisah Ratu Pantai Selatan di Yogyakarta dan masih banyak lagi.

Kisah-kisah tersebut banyak menginspirasi para sineas untuk diangkat ke layar lebar. Salah satu urban legend yang diangkat ke layar lebar adalah kisah keranda terbang atau hantu lampor di Temanggung, Jawa Tengah. Kisah tersebut menginspirasi Chand Parwez Servia untuk memproduseri film Lampor Keranda Terbang. joker123

Film ini rencananya akan tayang pada 31 Oktober 2019 bertepatan dengan Halloween. Nah, penasaran dengan film Lampor Keranda Terbang? Simak dulu review-nya berikut ini ya!

Sinopsis: Setan Lampor, Penanda Hadirnya Pendosa di Masyarakat
Edwin (Dion Wiyoko) tak pernah menyangka usaha yang didirikannya akan bangkrut dan mengalami kerugian yang sangat besar. Untuk menutupi semua kerugiannya, Edwin meminta Netta (Adinia Wirasti) untuk meminjam uang kepada keluarganya di Temanggung, Jawa Tengah. Netta awalnya menolak berurusan lagi dengan keluarga ayahnya di kampung. Menurut Netta, ayahnya sudah bersekutu dengan iblis dan itu tak bisa diterima oleh dirinya. judi tembak ikan

Sesampainya di kampung, Netta datang di saat yang tepat. Yakni sesaat sebelum ayahnya, Jamal (Mathias Muchus) dikebumikan. Asti (Nova Eliza) istri muda Jamal sekaligus ibu tiri Netta mengatakan kalau selama ini Jamal mencari Netta sampai di akhir napasnya.

Bukan hanya kesedihan karena ditinggal sang ayah, warga di kampung Netta tak menerima Netta kembali karena dianggap telah membawa lampor datang lagi ke kampung itu. Warga setempat percaya lampor datang karena ada pendosa di masyarakat.

Tak terima disebut sebagai pendosa, Edwin dan Netta pun membuktikan kalau mereka bukan pembawa lampor kembali ke desa itu meskipun itu artinya mereka harus bertaruh nyawa.

Lampor Keranda Terbang menurut saya menjadi film yang cukup spesial. Sebab, film ini menjadi debut film horor pertama bagi Dion Wiyoko dan Adinia Wirasti. Baik Dion maupun Rasti lebih sering bermain dalam film bergenre drama.

Menurut saya pribadi, di debut mereka dalam film horor ini, penampilan keduanya cukup memuaskan. Saya sempat ikut merasakan kesal saat Netta (Adinia Wirasti) enggan menceritakan asal usul keluarganya kepada Edwin (Dion Wiyoko). Saya juga ikut merasakan bagaimana perjuangan Edwin sebagai ayah saat ia harus bertaruh nyawa untuk menyelamatkan keluarganya.

Kalau selanjutnya Dion dan Rasti bermain film horor lagi, saya yakin keduanya tak akan mengecewakan karena mereka sudah memberi kesan baik dan cukup memuaskan di debut pertamanya ini.

Sebelum menonton film Lampor Keranda Terbang, saya sudah mencari tahu banyak tentang kisah urban legend ini. Karena rasa penasaran itulah yang membuat saya mencari dan membaca kisah tentang lampor melalui internet.

Membaca kisah lampor yang bisa menyembunyikan manusia tanpa terlihat sama sekali oleh manusia lain, jujur, membuat saya tak percaya begitu saja. Terlebih di Indonesia sendiri sudah sangat banyak kisah urban legend seperti ini. Sehingga, mau percaya pun rasanya agak sulit.

Ingin meyakinkan penonton kalau setan lampor betulan ada, di akhir film, sang sutradara memasukan testimoni mereka yang dipercaya pernah disembunyikan oleh lampor. Melihat kesaksian mereka, sedikit banyak mengubah pandangan saya kalau lampor memang benar ada dan bukan mitos belaka.

Sebagai penonton film, saya sering melabeli para tokoh dalam film. Misalnya tokoh A sosok yang baik, yang jahat itu B, dan sebagainya. Tapi, dalam film ini, saya terkecoh berkali-kali dan sama sekali tak ada yang bisa dilabeli baik atau buruk, kecuali sang tokoh utama Netta dan Edwin.

Plot twist yang padat di akhir film membuat saya benar-benar tak bisa mempercayai tokoh mana pun di dalam film ini. Bagi saya ini adalah salah satu ukuran sukses suatu film karena jalan cerita yang disajikan sama sekali tidak tertebak.

Bukan hanya menyajikan kisah yang tak tertebak, moral cerita yang ada di film ini juga sangat penting, yakni tentang keluarga. Bagaimana pun kita, seburuk atau sebaik apapun kita di luar sana, tetap hanya keluarga yang bisa menerima kita apa adanya.

Kamu sendiri bagaimana, sudah menonton film Lampor atau ingin menontonnya nanti? Tulis di kolom komentar ya.

Posted in sayo-itsuTagged
Film Countdown Aplikasi Pembunuh

Film Countdown Aplikasi Pembunuh

Film Countdown Aplikasi Pembunuh -Apa hal yang paling menyenangkan dalam hidup ini. Bermain-main dengan aplikasi adalah salah satunya. Benar-benar, aplikasi-aplikasi yang terpasang di ponsel pintar kita. Panjat sosial dengan media sosial Instagram misalnya. Atau adu urat dengan media sosial Twitter.

Image result for countdown"

Ah, bagaimana jadinya bila sebuah aplikasi dapat menentukan sisa waktu yang kita miliki untuk hidup? Melalui fitur hitung mundur, aplikasi tersebut dapat memberitahu berapa tahun, hari, hingga sisa detik yang kita miliki sebelum kematian menjemput. Paling tidak itulah ide utama yang ditampilkan pada Countdown; sebuah film horror garapan sutradara Justin Dec yang dirilis bulan Oktober 2019 ini. Segera tayang di bioskop Indonesia, berikut ulasan film Countdown? daftar joker123

Tak ada yang salah dengan hidup Quinn Haris (Elizabeth Lail) selama ini. Sebagai seorang perawat baru di sebuah rumah sakit dan menjalani rutinitasnya sehari-hari. Namun, kenyataan berbicara lain ketika ia mendapatkan dirinya hanya memiliki waktu dua hari untuk bertahan hidup. Haris mengunduh aplikasi tersebut setelah ia mengetahuinya dari salah satu pasien yang ia rawat. Dapatkah Haris lari dari kenyataan bahwa hidupnya telah terancam dan digatungkan pada sebuah aplikasi pencabut nyawa?

Tidak dapat dipungkiri bahwa ide cerita yang ditawarkan pada film ini cukup menarik dan mengundang penasaran. Apalagi dengan keberadaan ‘aplikasi’ yang menjadi kunci utama dari konsep cerita. Tentunya sangat relevan pada konteks masyarakat sekarang, dimana teknologi digital kini menjadi entitas yang tidak dapat dipisahkan dengan manusia.

Melalui eksekusi dan penulisan yang baik, film ini memiliki potensi untuk menghadirkan dunia bergaya dystopia tersendiri layaknya jagat Black Mirror di mana eksplorasi terhadap hubungan teknologi dan hidup manusia dapat menjadi hal yang dapat ditonjolkan pada film.

Countdown disebut sebagai salah satu film horor. Tahu dong pastinya, jika kamu menonton film horor, seharusnya ikut terbawa suasana mengerikan di sepanjang ceritanya. Namun, untuk disebut horor pun rasanya kurang tepat. Thriller, tak terasa mencekam sama sekali. Teror psikologi apalagi. Countdown hanya mencoba menempatkan sisi relevansi manusia yang terjebak dalam dunia maya. Orang-orang ini kemudian merasa parno dengan hal-hal yang terjadi di sekitarnya.

Lagi-lagi, film ini pun gagal untuk mengeksplorasi hal tersebut. Alih-alih menghadirkan cerita layaknya jagat Black Mirror, Countdown hanya sekadar menjadi film horror yang mengandalkan jumpscare murahan dan aktor berparas menarik. Sepanjang film, kita dipaksa untuk mengikuti petualangan karakter utama dalam menyiasati strategi sang “iblis pencabut nyawa” yang kebetulan menyambi peran sebagai app developer (pembuat aplikasi). Berbagai cara seperti meretas ke dalam server hingga akhirnya bala bantuan datang dari seorang pendeta nyentrik, karakter utama harus menemukan cara untuk mengalahkan sang pencabut nyawa.

Plot yang ditawarkan juga tidak masuk akal dan bahkan terkesan seperti guyonan. Tokoh utama juga kurang dapat membawa tiap adegan menjadi mencekam, aktinya begitu plain dan kurang meyakinkan. Belum lagi dengan chemistry yang tidak dapat ditemukan di antara tokoh pada film. Penulis juga mencoba untuk memasukan sisi emosional dengan menampilkan latar belakang cerita mengharukan tentang keluarga tokoh utama. Lagi-lagi, sisi emosional ini gagal digali lebih dalam untuk ditampilkan karena kurangnya chemistry antar tokoh.

Walau begitu, Countdown menjadi film horor yang cocok bagi kalian yang ingin terpicu adrenalinenya. Selain itu, sound effet dalam film ini konsisten sehingga sukses membuat suasana semakin mencekam. Berani nonton filmnya?

Posted in sayo-itsuTagged
Film Zombieland 2

Film Zombieland 2

Film Zombieland 2 -Sebenarnya, artikel review film Zombieland 2 Double Tap ini sudah bisa dinikmati sejak hari Jum’at lalu. Tapi mengingat jadwal tayang perdana film ini masih agak lama, saya ragu untuk mempublikasikannya akhir minggu lalu.

Image result for zombieland 2"

Setelah sukses dengan Zombieland pertama yang rilis sepuluh tahun silam, Columbia Pictures kembali merilis film “Zombieland: Double Tap” bulan ini, dengan sutradara yang sama, Ruben Fleischer. http://162.214.145.83/

Alur Cerita
Setelah virus epidemi terus menyebar, populasi manusia yang ingin terus bertahan hidup dengan melawan zombie, menjadi semakin sedikit. Empat sekawan yang berani dan sukses melawan zombie di Zombieland pertama, kini semakin akrab dan sudah seperti sebuah keluarga.

Mereka adalah Tallahassee (Woody Harrelson), Columbus (Jesse Eisenberg), Wichita (Emma Stone), dan Little Rock (Abigail Breslin). Ya, tokoh-tokoh utama yang masih diperankan oleh aktor-aktor dari film pertama.

Setelah berkelana tanpa tujuan tertentu, mereka akhirnya sepakat untuk tinggal di White House, istana kepresidenan Amerika Serikat,- yang ternyata nyaman untuk dijadikan tempat tinggal.
Namun, Little Rock merasa tidak betah untuk terus bersama dengan kelompok itu. Ia memutuskan untuk berkelana dan memisahkan diri. Wichita sebagai kakak Little Rock, memutuskan ikut bersama sang adik dan pergi tanpa sepengetahuan Tallahassee dan Columbus.

Di pertengahan jalan, Little Rock dan Wichita bertemu dengan seorang musisi hippies, Berkeley (Avan Jogia). Namun, Little Rock lebih memilih meninggalkan Wichita, dan pergi dengan Berkeley.

Wichita memutuskan kembali ke White House dan memulai petualangan dengan Tallahasse dan Colombia, untuk menemukan kembali Little Rock. Dan mereka harus menerima kenyataan berada di tengah-tengah para zombie yang kali ini lebih berbahaya dibanding sebelumnya.

Karakter
Bagian ini nampaknya tempat yang lebih pantas untuk membahas karakter baru dalam film ini yaitu, Madison, Berkeley dan Nevada. Misalnya, Madison yang dibentuk menjadi sosok ceria guna mengurangi ketegangan dibeberapa momen. Berkeley yang misterius, juga Nevada yang curigaan.

Ketiga karakter ini berperan sekali mensukseskan Plot twist yang dilakukan sang penulis cerita. Dan seperti yang kalian bisa lihat pada trailer film ini, nampaknya pihak studio ingin memberikan ekspektasi kepada para calon penonton, bahwa film ini punya banyak sisi drama dan humor di luar sisi horor yang menjadi inti cerita.

Casting
Nama – nama aktor dalam film ini cukup menjual. Woody Harrelson, Jesse Eisenberg, dan Abigail Breslin semuanya pernah masuk dalam nominasi peraih Oscar. Bahkan Ema Stone, pernah sekali memboyong penghargaan sebagai Aktris terbaik lewat aktingnya di La La Land.

Memang, bukan dari film Zombieland pertama yang membuat mereka masuk atau memenangkan nominasi. Tapi akting mereka di film kedua ini sangat mungkin mengantar mereka memenangkan nominasi, terutama bagi Woody, Jesse atau Abigail.

Visual & Audio
Adegan tembak menembak dan proses pembantaian zombie dalam film ini digambarkan dengan visualisasi kejam, namun kategori ringan. Sama sekali tidak memunculkan adegan sadistic seperti ekspektasi orang yang melihat judulnya. Tapi tambahan adegan berbahaya dan efek ledakan, cukup mampu menghidupkan adegan – adegan aksi dalam film ini.

Properti yang digunakan membuat film ini cukup unik walau ada beberapa bagian yang terlihat berlebihan.Semua dimanfaatkan cukup baik sebagai objek pemicu adrenalin.

Audio dan soundtrack yang hadir melatari adegan – adegan menegangkan, menurut saya cukup baik dalam merepresentasikan adegan yang sedang berlangsung. Walaupun masih kurang mengangkat perasaan deg – degan di beberapa adegan menegangkan.

Seperti versi pertama, make-up yang dihadirkan dalam film ini, terutama untuk karakter zombi, tidak terlalu ekstrim. Sekedar ingin menggambarkan bahwa manusia yang telah terinfeksi, akan kehilangan kesadaran untuk mengurus diri sendiri,-hingga nampak seperti orang gila biasa.

Unique
Pada akhirnya, film ini memang agak kurang memenuhi ekspektasi saya tentang sebuah cerita yang melibatkan masa – masa appocalipse. Yap, Zombieland: Double Tap tetap mempertahankan kekonyolan dan sarkasme yang menggelitik, ditambah beberapa plot twist tak terduga.

Tapi jika kamu mencari film drama komedi dengan latar cerita penuh zombie yang tak terlalu dibuat menyeramkan, tak perlu pikir panjang untuk memesan tiket film yang mulai tayang 23 Oktober mendatang.

Terkahir seperti biasa, semoga review film Zombieland 2: Double Tap kali ini juga mampu menjadi tambahan referensi untuk membantu kamu menentukan film yang cocok dinikmati week-end ini.

Posted in sayo-itsuTagged
Film Aladdin Live Action

Film Aladdin Live Action

Film Aladdin Live Action -Tayangan Film Aladdin live-action merupakan remake dari film animasi Aladdin di tahun 1992 buatan Disney. Dalam Film animasinya menjadi film dengan pendapatan terbesar di tahun 1992. Dalam sebuah Film Aladdin ini juga film animasi pertama yang mendapatkan lebih dari 500 juta dollar, sebelum dikalahkan oleh The Lion King yang juga merupakan film animasi dari Disney.

Image result for aladdin"

Agrabah merupakan rumah dari Aladdin (Mena Massoud), seorang pencuri yang sebenarnya memiliki hati yang baik dan penolong kepada orang-orang yang membutuhkan. Dia bertemu secara tidak sengaja dengan Princess Jasmine (Naomi Scott) yang sedang menyamar menjadi rakyat jelata di tengah pasar yang hiruk pikuk.

Princess Jasmine memberikan roti kepada anak-anak kelaparan, padahal dia tidak punya uang untuk membelinya sehingga dia diminta pertanggung jawaban oleh sang pedagang. Aladdin melihatnya terancam dan menyelamatkan dia. Dikala itu Aladdin jatuh hati pada kecantikan, kebaikan dan semangat Princess Jasmine yang ingin mengubah Agrabah menjadi lebih baik lagi.

Melihat dari gambar-gambar dari film dan trailer-nya tentu kebanyakan orang menjadi skeptis melihat film live-action-nya tidak sesuai ekspektasi atau imajinasi para penontonnya, terutama kepada sosok Will Smith yang dianggap miscast sebagai dan juga keanehan bentuk saat menjadi jin biru itu. Segala keskeptisan itu bisa dikatakan terpatahkan, karena film Aladdin ini bisa dikatakan melebihi ekspektasi penonton yang sudah cukup rendah itu. daftar joker123

Sosok Genie / jin biru yang ditampilkan oleh Will Smith terasa segar dan lucu. Will Smith mampu keluar dari bayang-bayang Genie-nya Robin Williams di film animasi Aladdin dengan tidak berusaha menirunya. Namun dia tidak bisa memberikan kehangatan yang diberikan Robin Williams. Ironisnya lagi Will Smith terasa lebih baik berperan sebagai wujud manusia daripada sebagai Genie.

Mena Massoud dan Naomi Scott memberikan penampilan yang lumayan. Mena dengan kebaikan hati, semangat, kesederhanaannya dan kecanggungannya saat berhadapan dengan Princess Jasmine.

Naomi Scott dengan tekadnya yang kuat supaya bisa lepas dari kungkungan kerajaan yang tidak memperbolehkan wanita menjadi pemimpin, tekadnya juga kuat untuk tidak tunduk kepada perjodohan yang memperlakukan wanita hanya sebagai objek.

Penampilan Mena dan Naomi terbaik ada dalam segi koreografi yang mereka tampilkan dengan sedikit pengaruh tarian India dan beberapa adegan mengingatkan dengan koreografi pada film High School Musical.

Sayangnya dari segi cerita, walau cukup berani untuk sedikit merubah jalan cerita dan memang beberapa menjadi cukup mengena khususnya pada bagian women empowerment itu, namun cerita menjadi terlalu panjang, kurang menarik dan terasa membosankan di beberapa bagian. Kemudian lagi lagu “A Whole New World” yang masuk dalam 100 lagu film terbaik sepanjang masa versi AFI (American Film Institute) dan juga mendapatkan Oscar ini terasa kurang magis baik dari segi sinematografi, efek spesial maupun performa penyanyinya yang dahulu secara sempurna dinyanyikan oleh Brad Kane dan Lea Salonga.

Lagu “Prince Ali” dan “Friend Like Me” juga tidak mampu menyaingi film originalnya yang dahulu terasa lebih lucu dan menyenangkan. Dari segala jalan cerita, film animasinya pun lebih terasa lebih mengalir dan natural, film Aladdin live-action ini terkadang terasa kaku dan artifisial. Kekurangan lainnya adalah sosok Jafar yang diperankan Marwan Kenzari, terasa sangat lemah karakterisasinya, ditambah juga dengan akting yang biasa saja.

Diluar dugaan melebihi ekspektasi penonton yang memang sudah rendah. Film Aladdin live-action ini terasa cukup menghibur dan lucu dengan berbagai lagu-lagu yang menyenangkan. Namun jelas masih belum mampu mendekati kualitas film animasinya di tahun 1992 yang sangat bagus itu.

Posted in sayo-itsuTagged
Film-Traminator-Dark-Fate

Film Terminator Dark Fate

Film Terminator Dark Fate -Terminator: Dark Fate adalah sekuel Terminator terbaik setelah Terminator 2: Judgement Day. Sutradara Tim Miller (Deadpool) membuat berbagai keputusan tepat yang menjadikan Dark Fate lebih ganas, lebih menghibur, dan sedikit lebih segar dibandingkan pendahulu-pendahulunya. Meski begitu, Dark Fate tidak melupakan berbagai elemen ikonik seri Terminator sehingga film berdurasi dua jam ini tetap akan terasa familiar bagi penggemar setia.


Dark Fate sendiri mengambil setting 24 tahun pasca keberhasilan Sarah Connor (Linda Hamilton), John Connor (Edward Furlong), dan ‘Uncle Bob’ T-800 (Arnold Schwarzenegger) meledakkan CyberDyne, pencipta Skynet yang merupakan induk para terminator. Aksi mereka berhasil mencegah kiamat (Judgement Day) yang seharusnya terjadi di tahun 1997 akibat Skynet meledakkan nuklir di berbagai penjuru dunia. Namun, kenyataan berikutnya tidak seindah harapan Sarah dan John.


Meski Skynet berhasil dihancurkan, Sarah cs ternyata tidak sepenuhnya mencegah kiamat. Sedikit meminjam elemen dari Terminator 3: Rise of the Machine, apa yang dilakukan Sarah cs hanyalah mencegah Skynet terwujud dan menunda kiamat. Dengan kata lain, perang antara manusia dan mesin akan tetap terjadi di masa depan, baik dengan atau tanpa kehadiran Skynet. Kisah di Dark Fate menegaskan bahwa sebanyak apapun Sarah mencegah kiamat, pada akhirnya hal itu akan terjadi juga.


Kenyataan kelam itu ditandai dengan kehadiran terminator Rev-9 (Gabriel Luna) dari masa depan. Rev-9 adalah cyborg yang mampu membelah diri dengan cara memisahkan exoskeleton-nya dari inner frame. Exoskeleton Rev-9 memiliki kemampuan setara T-1000 sementara inner frame-nya setangguh T-800 yang menjadikannya salah satu terminator paling berbahaya.


Dikirim pengganti Skynet bernama Legion, Rev-9 memiliki misi memburu Daniella Ramos (Natalia Reyes). Seperti John Connor dulu, Daniella diramalkan menjadi pemimpin manusia dalam perang melawan mesin.
Untungnya, bantuan dari masa depan juga hadir untuk melindungi Daniella, sama seperti Kyle Reese datang untuk melindungi Sarah Connor di The Terminator atau ‘Uncle Bob’ melindungi John Connor di Terminator 2: Judgement Day. Pasukan Resistance di masa depan mengirim Grace (MacKenzie Davis), hybrid human-cyborg, untuk melindungi Daniella bersama Sarah Connor.


Dark Fate terasa lebih baik dibandingkan pendahulu-pendahulunya karena Tim Miller tak memaksa Dark Fate untuk berbeda total. Sebaliknya, sutradara Tim Miller menggunakan semua elemen bagus dari film-film Terminator terdahulu dan kemudian mengolahnya menjadi sebuah produk yang nikmat ditonton. Dark Fate adalah Star Wars: The Force Awakens untuk saga Terminator di mana tidak terasa unik, tetapi tetap mampu membawa franchise ke direksi yang baru.


Salah satu elemen terbaik tersebut adalah Sarah Connor. Ya, selama ini kebanyakan orang mengira key ingredient film Terminator adalah kehadiran T-800 di mana ia nyaris selalu menjadi sorotan utama. Padahal, jiwa franchise Terminator adalah Sarah Connor, bukan T-800 ataupun John Connor.


Ketika seri Terminator masih digarap James Cameron (Titanic, Avatar), kisah utamanya selalu berpusat pada Sarah yang berusaha melindungi orang-orang di sekitarnya sekaligus mencegah kiamat. Dengan kata lain, tanpa Sarah, tidak akan pernah ada kisah terminator versus manusia. Kehadiran Sarah membuat Dark Fate terasa relatable untuk mereka yang menggemari saga Terminator sejak dulu.


Linda Hamilton sendiri belum kehilangan tajinya dalam memerankan Sarah. Meski dua dekade sudah berlalu sejak terakhir kali ia menjadi Sarah Connor, Hamilton tetap mampu menampilkan Sarah yang tangguh, tegas, dan protektif seperti seorang ibu pada umumnya. Ia berhasil mencuri perhatian di berbagai adegan sekaligus menegaskan bahwa Terminator adalah daerah kekuasaannya, bukan milik Arnold Schwarzenegger. joker123 deposit pulsa


Schwarzenegger, tak lagi menjadi sorotan utama, juga masih handal memerankan cyborg T-800. Walau perawakannya sudah tidak segarang dulu, Schwarzenegger masih mampu menghadirkan T-800 seperti yang kita kenal. Malah, T-800 di Dark Fate adalah salah satu inkarnasi terbaik selain ‘Uncle Bob’ di Terminator 2: Judgement Day.


Meminjam elemen Terminator: Genisys, T-800 di Dark Fate memiliki karakter manusiawi karena bertahun-tahun mempelajari tingkah laku manusia usai menuntaskan misinya. Bertahun-tahun belajar membawa T-800 ke satu titik di mana ia merasa lebih seperti manusia dibandingkan cyborg. Pada akhirnya ia memutuskan untuk mengadopsi nama manusia, Carl, dan hidup bersama-sama manusia menjadi pedagang gorden.


Untungnya, kemampuan bertarungnya tidak lapuk dimakan waktu seperti T-800 di Terminator: Genisys. Carl bisa memberikan perlawanan hebat kepada Rev-9 yang jauh lebih modern. Pertarungan keduanya menampikan berbagai laga keren yang menghiasi sepertiga terakhir Dark Fate. Bahkan, salah satu bagian mampu membuat mata Play Stop Rewatch berkaca-kaca karena sarat dengan homage ke Terminator 2: Judgement Day.


Selain karakter yang keren, salah satu elemen ikonik Terminator yang berhasil diolah kembali oleh Tim Miller adalah kisah besar franchisenya. James Cameron menciptakan franchise Terminator bukan sebagai kisah sci-fi laga semata, tetapi juga drama keluarga.

Di tangan ia, kisah Terminator sarat akan elemen-elemen kekeluargaan mulai hubungan ibu dan anak hingga pentingnya figur seorang ayah. Contohnya, Terminator 2: Judgement Day menampilkan hubungan John Connor dan ‘Uncle Bob’ layaknya seorang anak dan ayah yang bahkan diakui oleh Sarah sendiri di salah satu bagian film.

Posted in sayo-itsuTagged
Maleficent-Mistress-of-Evil

Maleficent Mistress of Evil

Maleficent Mistress of Evil -Selain superhero, saat ini banyak sineas yang tertarik untuk membuat film khusus mengenai sosok villain atau penjahat yang terkenal dalam sebuah cerita.

Sebut saja Joker yang baru-baru ini menuai perbincangan hangat di seluruh dunia. Namun sebelum Joker, Anda mungkin ingat Maleficent, sosok penyihir jahat yang mengutuk Princess Aurora tertidur selamanya karena tertusuk jarum.

Di tahun 2014 lalu, Disney merilis film khusus mengenai asal muasal mengapa Maleficent berubah menjadi sosok penyihir jahat. Film yang dibintangi Angelina Jolie dan Elle Fanning itupun menuai kesuksesan di seluruh dunia. Tak heran jika pada akhirnya Disney membuat sekuelnya, Maleficent: Mistress of Evil. Lalu, seperti apa kisah Maleficent dan Princess Aurora di film kedua ini? Simak ulasan saya selengkapnya berikut ini!

Lima tahun setelah insiden tertusuk jarum dan kutukan tidur panjang terpatahkan, Princess Aurora (Elle Fanning) menjadi seorang ratu di Negeri Moors, tempat Maleficent (Angelina Jolie) dan para peri berasal. Prince Phillips (Harris Dickinson) yang sudah lama menyukai Aurora pun melamarnya. Mendengar Aurora menerima lamaran Phillip, Maleficent tidak menyetujuinya. Aurora pun berusaha membujuk Maleficent dan mengajaknya bertemu dengan orang tua Phillip di Kerajaan Ulstread. Maleficent disambut oleh orang tua Phillip, King John (Robert Lindsay) dan Queen Ingrith (Michelle Pfeiffer), dalam sebuah jamuan makan malam.

Dalam jamuan itu, King John bermaksud menawarkan perdamaian antara Moors dan Ulstead yang ditandai dengan pernikahan Aurora dan Phillip agar manusia dan peri hidup bersama. Namun, Queen Ingrith justru memiliki rencana sebaliknya. Ternyata calon ibu mertua Aurora itu punya rencana jahat untuk melukai Maleficent dan seluruh peri di Moors. Tidak disangka, makhluk seperti Maleficent bukanlah satu-satunya di dunia ini. Ada banyak Fey (sebutan untuk peri bersayap seperti Maleficent) yang bersembunyi karena takut dimusnahkan oleh manusia. joker123

Saat melihat trailer-nya, saya sempat berpikir jika sekuel Maleficent ini akan dipenuhi adegan aksi. Namun, ternyata justru sebaliknya. Aksi pertempuran hebat yang terjadi dalam film ini justru bisa dikatakan cukup singkat. Mungkin karena film ini diberi rating SU atau semua umur sehingga adegan kekerasan diminimalisir karena banyaknya anak-anak yang akan menyaksikannya. Meskipun begitu, minimnya adegan aksi juga tidak mengurangi keseruan ceritanya.

Tantangan Berat Angelina Jolie
Maleficent: Mistress of Evil merupakan penanda kembalinya Angelina Jolie ke dunia akting setelah vakum selama empat tahun. Bukan tanpa alasan, Jolie sengaja cuti dari dunia film karena tengah mengurus perceraiannya dengan mantan suaminya, Brad Pitt. Selama proses syuting, diakui ibu enam orang anak ini, merupakan hal yang sangat berat baginya. “Aku menghadapi waktu yang sangat berat dan merasa tidak kuat. Kenyataannya, aku merasa hancur sehingga aku membutuhkan waktu untuk bisa merasakan kekuatan dari sosok Maleficent,” ujarnya kepada People.review maleficent

Bahkan Jolie harus kehilangan berat badannya hingga lebih dari 30 kg yang sangat terlihat saat dirinya mengenakan kostum Maleficent. Meskipun begitu, kemampuan akting yang ditampilkan Jolie pada Maleficent 2 ini tetap memukau. Emosi yang ditampilkan Maleficent saat dirinya terluka, serta bagaimana rasa dendam yang menyelimuti dirinya ditampilkan dengan apik oleh Angelina Jolie. Tak hanya Jolie, kemampuan akting Elle Fanning dalam film ini juga perlu diapresiasi karena membuat penonton terhanyut dengan kesedihan dan amarah yang diperlihatkannya.

Berdurasi cukup singkat, yakni 112 menit, Anda akan dimanjakan dengan visual efek yang ditampilkan, serta tentunya riasan makeup Maleficent yang tampak memesona. Nah, jika Anda tertarik menyaksikannya, Maleficent: Mistress of Evil sudah tayang mulai hari ini, 17 Oktober 2019, serentak di bioskop-bioskop terdekat di kota Anda. Jangan lupa juga untuk mendampingi anak-anak saat menontonnya, ya!

Posted in sayo-itsuTagged