September 25, 2020
Breaking News
The Lion King

The Lion King

The Lion King – Dua puluh lima tahun yang lalu Disney menelurkan film animasi yang begitu menggugah dan menjadi favorit banyak orang hingga kini. Bahkan status legenda pun berhasil disematkan di film ini yang lantas membuatnya menjadi salah satu film animasi paling berpengaruh dalam sejarah perfilman dunia.

Dengan menggabungkan unsur cinta, proses pendewasaan dan juga perebutan tahta, The Lion King (1994) lantas menjadi sebuah animasi dengan cerita kuat yang begitu mengena dan relevan hingga bertahun-tahun kemudian. joker123

Dan pada tahun ini, Disney pun kembali merilis film legendaris tersebut yang euforia penyambutannya sendiri sudah dimulai sejak setahun lalu. Menjadi salah satu proyek adaptasi dari animasi Disney yang paling ditunggu, The Lion King (2019) semakin semarak kala memiliki deretan pengisi suara yang tidak main-main. Beyonce sebagai Nala, Donald Glover sebagai Simba, dan Seth Rogen sebagai Pumbaa dan kembalinya sang legenda, James Earl Jones sebagai Mufasa, tentunya membuat proyek ini terlihat sangat menjanjikan.

Tentunya film ini masih memberikan kisah yang sama dan tak berubah, yakni tentang petualangan Simba yang terpaksa memulai hidup baru pasca kehilangan sang ayah yang amat ia cintai. Sembari takdir mengingatkannya kembali akan tujuan hidupnya untuk menyelamatkan tanah kelahirannya dari kekuasaan pamannya yang jahat nan licik, Scar (Chiwetel Ejiofor).

The Lion King

Akan tetapi dibalik gegap gempitanya respon yang diberikan publik di seluruh dunia, kritik yang disematkan untuk film ini justru begitu beragam. Tak seperti versi originalnya yang mendapatkan angka rotten tomatoes 93%, versi barunya sampai hari ini justru masih menunjukkan nilai yang masuk kategori busuk yaitu 59%. Tidak beda jauh dengan Aladdin yang dirilis tempo hari, meskipun pada akhirnya hasil box office-nya tak sejalan dengan kritik yang diberikan.

Lantas, apa saja hal menarik yang menjadi sorotan dalam film ini? Masih worth kah untuk menonton versi terbarunya ini? Maka tanpa menulis sinopsis yang pastinya hampir semua orang tahu cerita The Lion King, yuk, kita langsung masuk ke dalam ulasannya.

Dapat dibilang versi terbaru The Lion King ini cukup memusingkan untuk disebut. Live action bukan, animasi pun bukan. Maka lebih tepatnya ialah versi CGI termutakhir yang diadaptasi dari versi animasi.

Ya, tentu saja termutakhir karena ini merupakan lompatan teknologi yang sangat luar biasa sejak Avatar melakukannya di 2009 silam. Disney menyebutnya sebagai CGI Photorealism, dimana beberapa tahun yang lalu orang-orang mungkin tidak pernah membayangkan ada teknologi secanggih ini.

Dalam film The Jungle Book tahun 2016 yang menjadi ladang eksperimental bagi Jon Favreu dan Disney dalam menciptakan visualisasi live action serealistis mungkin, tentu masih menyisakan unsur komputerisasi yang terlihat kasar semisal pada latar hutan ataupun beberapa adegan Mowgli berlari didalamnya. Akan tetapi dalam The Lion King, hal itu tidak terjadi karena setiap latar, katakter dan atmosfernya begitu detail, hingga kita tak bisa membedakan mana asli mana CGI.

Sang sutradara yang bernama Jon Favreu bersama sinematografer Caleb Deschanel menggunakan set virtual dengan kacamata VR (Virtual Reality), dalam proses shoot film ini. Mereka lantas mengeksplorasi replika padang sabana di Afrika dan melakukan proses pergerakan kamera layaknya syuting di lokasi asli. Hal tersebut untuk menampilkan tangkapan adegan legendaris dalam versi 1994-nya ke dalam adegan yang jauh lebih realistis di versi 2019-nya ini.

Dan hasilnya betul-betul luar biasa. Jon Favreu membuat kita serasa menyaksikan sajian dokumenter Animal Planet, National Geographic ataupun Planet Earth. Hanya saja, binatang-binatang didalamnya kali ini bisa berbicara dan bernyanyi. Sangat halus dan tak terasa CGI nya sama sekali.

Adegan circle of life yang begitu memorable misalnya, mampu direka ulang dengan lebih megah dan tentunya menggetarkan jiwa. Kombinasi antara lagu, visual megah dan karakter yang semakin realistis, membuat adegan ini menjadi salah satu adegan reka ulang terbaik dalam versi 2019 nya ini.

Daya magis Disney tentu saja bekerja dengan sangat baik lewat teknologi photorealism ini. Setiap adegan dalam versi animasi 1994 nya, mampu ditranslasikan ulang dengan sangat mirip. Baik gerak-geriknya, dialognya bahkan ekspresi tiap karakternya tak ada yang berubah. Ya, meskipun memang tak seekspresif adegan pada versi 1994 nya.

Pertunjukan Emosi yang Berbeda

Tampilan yang lebih realistis memang menjadi kabar baik bagi lompatan teknologi yang bisa digunakan berbagai film animasi atau live action ke depannya. Namun dalam film The Lion King, hal tersebut justru menyisakan satu hal yang jadi kurang terasa “greget”. Hal tersebut adalah terkait emosi yang ditunjukkan oleh masing-masing karakternya.

Begini, dalam versi animasinya kita tentu saja bisa melihat perbedaan yang jelas kala tiap-tiap karakternya tertawa, sedih, kecewa ataupun marah. Hal tersebut karena tak ada batasan dari animasi itu sendiri. Semua bebas dilakukan karena ini film animasi yang kaya unsur fantasi.

Namun dalam versi yang memang ditujukan untuk lebih realistis, hal tersebut tentu saja tidak bisa dilakukan. Ada batasan-batasan dimana unsur fantasi yang memengaruhi sebuah ekspresi karakter, memiliki takarannya sendiri dan tak bisa dimasukkan begitu saja.

Gerak-gerik Simba kala bernyanyi, gerakan Timon & Pumbaa yang lebay kala bernyanyi dan menari atau bahkan Scar yang menunjukkan kegilaannya kala menyanyikan Be Prepared di versi 1994-nya, tentu saja tak bisa dimasukkan begitu saja. Maka kurangnya ekspresi yang jujur layaknya versi 1994-nya dalam film ini, membuat versi barunya ini tak memiliki greget dan emosi yang sama, meskipun tak bisa juga dibilang buruk. Tiap versi tentu memiliki keunikannya tersendiri.

Namun dari sisi pendalaman karakter, versi barunya ini bisa dibilang cukup baik, khususnya pada pengembangan cerita sang villain, Scar. Tambahan 30 menit durasi lebih lama dari versi originalnya memang ditujukan untuk pengembangan beberapa karakternya termasuk Scar.

Scar kali ini jauh lebih kelam, memiliki sakit hati yang beralasan dan tak sekadar megalomania layaknya versi originalnya. Ada luka (Scar) yang terbentuk di masa lalu dan yang ia bentuk di masa kini, untuk membuatnya pantas menyandang julukan Scar yang menakutkan itu.

Maka memotong nyanyian legendaris Scar berjudul Be Prepared yang kala itu diisi suaranya oleh Jeremy Irons, merupakan hal yang tepat. Be Prepared kala itu lebih menunjukkan sisi gila, megalomania dan psikopatnya Scar. Sementara versi barunya jauh lebih menunjukkan Scar yang berwibawa serta memiliki dendam dan amarah yang akhirnya bisa dilampiaskan di waktu yang tepat dalam wujud dialog bernada kurang dari semenit.

The Lion King 1

Penampilan Maksimal Para Pengisi Suara dan Hans Zimmer yang Memukau

Satu hal yang membuat film ini menyisakan nostalgia versi originalnya tentu saja datang dari para pengisi suara yang mampu memberikan performa yang maksimal. James Earl Jones yang kembali didapuk sebagai Mufasa, tentu saja memberikan atmosfer yang sama layaknya menyaksikan versi originalnya. Suara berat dan berwibawanya memang nampak sulit tergantikan.

Seth Rogen dan Billy Eichner tentu saja mencuri perhatian di film ini. Selain berhasil menghidupkan kembali karakter Pumbaa dan Timon, meta-jokes yang dihadirkan keduanya pun berhasil mengocok perut seisi bioskop. Tak lupa, nyanyian The Lion Sleeps Tonight dan Hakuna Matata juga berhasil membius penonton berkat kelucuan yang dihadirkan keduanya ditengah-tengah lagu tersebut.

Sementara Donald Glover dan Beyonce sebagai pasangan Simba dan Nala, masing-masing memang pantas mendapatkan peran tersebut. Tak hanya mampu menghidupkan sepasang singa yang jatuh cinta, namun juga menghidupkan kembali lagu Can’t You Feel the Love Tonight yang tentunya membangkitkan nostalgia dan mengundang seisi bioskop untuk bernyanyi bersama.

Oh iya, satu lagu baru berjudul Spirit yang dinyanyikan oleh Beyonce, menjadi salah satu lagu yang saya jagokan untuk mendapatkan awards di Grammy ataupun Oscar tahun depan untuk kategori Best Original Song. Komposisi musiknya sangat megah dan tentu saja catchy di telinga. Bahkan kemunculannya di film ini menjadi sebuah adegan baru yang cukup powerful dan mengena.

Dan nama terakhir yaitu Hans Zimmer, tentu saja tak boleh dilewatkan begitu saja. Bertanggung jawab atas megahnya musik pada versi originalnya, lantas pada versi reka ulang nya kali ini nyatanya Hans tidak menurunkan kualitasnya. Justru komposisi scoring di versi 2019 ini jauh lebih solid, megah dan jauh lebih berisi dari versi originalnya yang memang tidak diaransemen secara “brutal”. Semuanya pas dan berhasil membawa suasana fun dan membangkitkan nostalgia bagi para penonton.

Posted in sayo-itsuTagged
Toy Story 4

Toy Story 4

Toy Story 4 – Woody, Buzz, dan geng imut nan canggungnya kembali! Tapi apakah kisah keempat mereka sesuai ekspektasi? Nicholas Barber memberikan penilaiannya.

Terdapat di antara kita yang menyangka kalau 3 seri awal Toy Story merupakan trilogi terbaik dalam sejarah Hollywood, dan rencana hadirnya Toy Story 4 merupakan gagasan yang bikin tegang.

9 tahun yang lalu, film Toy Story 3 ini terasa menjadi perpisahan yang sempurna untuk seri yang sempurna ini, sehingga rencana penggarapan episode lain Toy Story pun disambut penuh antusias, seantusias jika kita melihat lukisan Mona Lisa mengenakan kacamata hitam dan kumis tebal.

Kita tidak perlu merasa khawatir. Kita langsung jadi percaya kalau film kartun baru arahan Josh Cooley ini hendak digarap dengan animasi yang memesona dan bertabur banyak lelucon yang membuatnya menjadi film terbaik Pixar. joker388

Toy Story 4

Segala rasa was-was yang sebelumnya hadir diharapkan langsung sirna dalam siraman hangat penampilan Woody (disuarakan oleh Tom Hanks), Buzz Lightyear (Tim Allen) dan teman-teman satu gengnya yang imut nan canggung.

Kenyataannya berbeda. Film Toy Story 4 tak merusak seri yang telah ada, akan tetapi juga tidak memberikan nilai plus apapun. Ini merupakan film berskala lebih kecil, tidak semengharukan dan, untungnya, tidak setraumatis seri ketiganya.

Dia juga tak sememuaskan alur kisah pendahulunya, dan temanya pun tidak seprovokatif Toy Story lainnya. Akan tetapi kisahnya memang dimulai dengan menjanjikan.

Sebab bocah pria dari ketiga seri Toy Story yang tadinya, Andy, telah berkuliah, kini mainan-mainannya dimiliki oleh Bonnie, seorang gadis kecil yang biasanya meninggalkan Woody di dalam lemari sementara ia bermain dengan mainan lainnya.

Seakan situasinya tidak bisa lebih buruk lagi bagi Woody si boneka koboi yang gampang tersinggung, Bonnie harus masuk taman kanak-kanak, dan orang tuanya memaksanya untuk tidak membawa mainan ke sekolah. Woody, tentu saja, ditaruh begitu saja di dalam tas, sementara Bonnie menjalin ‘persahabatan’ dengan sebuah sendok-garpu plastik berwarna putih, pembersih pipa berwarna merah, dan sebuah stik permen loli yang terbuat dari kayu.

Dia memberi nama mahluk aneh tersebut dengan panggilan Forky (disuarakan Tony Hale), dan yang membuat Woody terkejut, bukan hanya bisa hidup, Forky juga kemudian menjadi barang paling berharga milik Bonnie.

Meski terdengar sangat mustahil, hal itu benar-benar bisa terjadi: anak perempuan saya sendiri pernah mengamuk saat kehilangan mainan kesukaannya, Spoony di sendok plastik.

Seperti film Up yang diproduksi oleh Pixar, bagian terkuat dari kisah Toy Story 4 terletak pada 15 menit pertama film tersebut.

Pada bagian itulah film ini mengisahkan kecemasan berlebihan yang orang tua rasakan ketika anak mereka pertama kali masuk sekolah (sebuah perasaan yang sama yang dikisahkan Pixar juga lewat Finding Nemo), dan di bagian itu juga lah film ini mempertanyakan masalah identitas dan kebebasan – dan bagaimana persisnya mainan-mainan ajaib ini bisa berjalan dan berbicara.

Anda mungkin berpikiran bahwa Toy Story 4 berkutat pada tema-tema itu. Namun, layaknya seorang anak yang merasa bosan, film ini lantas membuang jauh-jauh tema itu dan membawa karakter-karakternya menjalani sebuah petualangan gila, seperti yang terjadi dalam film Up.

Sepulang sekolah, Bonnie dan orang tuanya pergi berlibur dengan menyewa sebuah mobil van dan membawa serta mainan-mainannya.

Dalam perjalanan, Forky terus menerus merengek dan menyebut dirinya adalah “sampah”, lalu berulang kali memasukkan dirinya sendiri ke dalam tempat sampah dan lompat keluar jendela, sebuah perilaku semi-bunuh diri yang menggelikan sekaligus mengerikan.

Woody berusaha untuk meyakinkan Forky bahwa menjadi mainan bisa sama bermanfaatnya seperti menjadi peralatan makan sekali pakai, akan tetapi di tengah upaya itu, fokus Woody teralihkan ketika ia melihat sebuah toko barang antik.

Saat sedang menyelinap masuk untuk mencari cintanya yang hilang, Bo Peep (disuarakan Annie Potts) yang muncul pada dua film Toy Story pertama namun absen pada film ketiga, Woody jatuh ke dalam cengkeraman Gabby Gabby (Christina Hendricks), boneka rusak yang memiliki desain kotak suara Woody.

Beruntungnya, ia berhasil kabur, tapi Forky tidak, yang tentu saja menjadi awal dari plot misi penyelamatan yang menjadi salah satu ciri khas film waralaba itu.

Film kartun Toy Story tidak pernah jauh dari genre film horor, dan kali ini kengerian kisahnya dihadirkan dalam bentuk boneka-boneka kecil nan kuno menyerupai bentuk manusia sesungguhnya yang merupakan pengawal Gabby Gabby.

Sebagai suatu penyeimbang, nuansa humor muncul dari karakter Duke Caboom (Keanu Reeves), miniatur stuntman setipe Evel Knievel versi Kanada, begitu pula dari dua mainan berbulu yang sering ribut sendiri (disuarakan Jordan Peele dan juga Keegan-Michael Key), dan karakter Bo Peep sendiri yang saat ini digambarkan sebagai sosok pahlawan perempuan yang mahir berakrobat untuk menandingi katakter Rey dari sekuel Star Wars terbaru.

Yang menjadi masalah ialah semua karakter tersebut lantas menutupi karakter-karakter lain seperti si dinosaurus yang mudah gugup, celengan babi yang sensitif, dan karakter Toy Story lainnya yang sudah kita kenal dan cintai lebih dulu.

Bahkan karakter Buzz Lightyear pun hanya diberi porsi peran pendukung yang sedikit, meski sosoknya ‘ditanami’ kelakar kocak tentang “suara hati” yang terus dimainkan sepanjang film.

Masalah lainnya adalah betapa rumit dan berulangnya alur yang diciptakan: para pahlawan, beserta sepuluh penulis naskah yang menulisnya, menghabiskan banyak waktu untuk menggarap misi penyelamatan karakter si sendok-garpu yang ia sendiri tidak begitu peduli untuk diselamatkan.

Pertaruhannya tidak sebanding dengan usaha yang mereka lakukan. Yang membedakan film Toy Story yang ini dengan lainnya yaitu hubungan antara Bonnie dan Forky yang baru berumur dua hari, sehingga momen penyelamatannya tidak sepenting ketika Woody berjuang untuk bisa bertemu lagi dengan Andy di seri sebelumnya.

Toy Story 4 1

Dan sejujurnya, filmnya sendiri menyadari kelemahan itu ketika Bo Peep menolak menyelamatkan Forky dari dalam toko. “Anak-anak sering kehilangan mainan mereka,” ujarnya. “Ia akan baik-baik saja.”Dan memang benar: anakku tidak pernah menyebut-nyebut Spoony lagi setelah bertahun-tahun.

Pada hakikatnya, kisah dari film Toy Story 4 ialah mengenai bagaimana Woody belajar memahami bahwasanya mainan mungkin tidak seberharga itu bagi anak-anak seperti yang ia bayangkan, meski pesan itu tidak mungkin bisa dipahami tanpa menyadari premis lemah di sepanjang filmnya, sehingga film ini diakhiri dengan pesan yang berantakan: beberapa mainan penting, sementara lainnya tidak; beberapa mainan diperlukan anak-anak, sementara sisanya tidak mereka butuhkan.

Pada saat film Toy Story 3 dirilis, berbagai surat kabar menuliskan bahwa banyak orang dewasa keluar dari bioskop dengan berurai air mata. Betapa pun menakjubkannya film Toy Story 4, emosi terkuat yang diakibatkannya adalah rasa kasihan bagi orang tua Bonnie, yang liburannya dikacaukan oleh Woody dan gengnya yang suka ikut campur.

Jika saja mainan-mainan itu meninggalkan Forky di toko barang antik itu, nasib seluruh keluarga itu akan lebih bahagia.

Posted in sayo-itsuTagged