April 4, 2025
Breaking News
Film-Titisan-Setan-2018

Film Titisan Setan 2018

Film Titisan Setan 2018 – Jadi jika berdasarkan sinopsis itu, maka premis film horor ini adalah : “seorang cewek cantik dihantui oleh arwah ibunya di villa pacarnya”

Hmmmm, ide cerita horor yang terlalu generik untuk bisa lolos pitch. Bukan hanya generik, premis diatas merupakan premis asal-asalan karena karakter Melissa tidak punya keinginan yang kuat. Melissa bahkan tidak punya keinginan sama sekali untuk sebuah karakter utama yang harusnya menyetir plot cerita. sbobet365

Intention and Obstacle, Keinginan dan Hambatan adalah basis dari premis yang merupakan basis dari cerita. Tanpa keinginan yang kuat karakter menjadi karakter yang membosankan. (dan lucunya hal ini dilontarkan melalui dialognya Gaby tentang opininya terhadap Melissa. judi bola

Jadi, rasanya tidak mungkin seorang datang ke produser lalu menjual premis asal-asalan di atas untuk film horor layar lebar, khususnya jika film ini mau bersaing dengan film horor lainnya (Pengabdi Setan aja baru tahun lalu). Jadi kemungkinan besar cerita film ini bukan ceritanya Melissa. www.mrchensjackson.com

Lalu, sebenarnya film ini ceritanya siapa sih? Coba kita lihat karakter utama lainnya : Bara.

Intention and Obstacle, Apa keinginan Bara? Bara ingin esek-esek dengan Melissa. Dengan cara? Menginap bersama Melissa di villa bapaknya. Tapi? Gaby datang mengancam Bara untuk nurut atau Gaby akan melaporkan niat bejat Bara ke nenek Melissa, Obstacle. Dari sini, kita dapat resep seorang karakter utama yang punya keinginan kuat dan cara/taktik yang jelas untuk meraih keinginannya. Bara memiliki basis karakter yang menarik yaitu keinginan yang kuat.

Dengan keinginannya yang kuat, Bara sengaja membuat mobilnya mogok agar bisa menginap dengan Melissa. Bara juga akhirnya diperlihatkan adalah seorang penjahat kelamin yang menaruh CCTV di kamar Melissa. Bahkan sangking kuat keinginannya, Bara sampai mencoba untuk memperkosa Melissa.

Hambatannya pun cukup organik, Gaby datang karena dari awal Melissa berbohong ke neneknya kalau dia mau menjenguk ibunya Gaby di rumah sakit. Gaby tahu sifat asli Bara, juga soal Melissa yang sebenarnya berbohong karena Bara. Karena itu, Gaby datang untuk memanfaatkan situasi tersebut. Hambatan yang kedua datang dari hantu di cerita ini, kita akan kembali ke bahasan ini nanti.

Kita bicara soal pitch, apakah ada seorang yang mau membuat film dengan cerita : “Seorang pemuda psikopat ingin esek-esek, dengan cara menjebak dan memperkosa pacarnya di villa, tapi dia tidak bisa esek-esek karena didatangi tamu dan hantu tak diundang.” emoticon-Stick Out Tongue

Kita tahu Bara punya keinginan yang kuat, taktik yang masuk akal, dan hambatan yang sulit, tapi coba deh tanya ke diri sendiri : “Apakah aku mau membuat cerita seperti itu?”

Ya nggak, lah emoticon-Big Grin. Kenapa premis tersebut kurang Appeal, sebuah ketertarikan yang menyulut empati ke hati orang yang membaca premis itu. Kemungkinan besar empati tidak didapat ketika kita tahu kalo karakter utama keinginan terbesarnya kepingin ngentemoticon-Stick Out Tonguet. Keinginannya tidak bermoral dan diluar etika.

Jadi ada gak karakter yang memiliki keinginan yang kuat dan bisa menyulut empati orang-orang? well my friend, there is.

Bagian ini gak akan dibahas di review manapun (saya harap), karena reviewer memiliki proposisi bahwa Hantu di film horor ini adalah karakter utamanya. Mari saya buktikan.

Hantu di film Titisan Setan ini adalah Ibunya Melissa. Apa keinginan si Hantu?

Secara kasat mata, keinginan Hantu ini adalah melindungi Melissa. Keinginan inilah yang membuat si Hantu menolong Melissa dari perkosaan Bara. Namun, kata melindungi sepertinya kurang menjelaskan motif dari tindakan kenapa dia menghantui Melissa, Gaby, Saykoji dan Bara.

Kenapa Gaby dan Saykoji dibunuh oleh si Hantu Ibu ini padahal kerjanya cuma ngolok-ngolok Melissa? Kenapa si Hantu mencoba mencelakakan Melissa di kolam renang? Kenapa si Hantu tidak langsung membunuh Bara padahal dia harusnya tahu kalau Bara seorang mesum bejat?

Semua hal diatas sebenarnya memiliki motif yang sama : si Hantu ingin menjaga hubungan Melissa dan Bara. Mari kita lihat.

Kenapa si Hantu membunuh Gaby dan Saykoji yang cuman mengolok-ngolok, tapi tidak langsung membunuh Bara yang benar-benar mau memperkosa? Hal itu karena Gaby mengancam Bara untuk memberi tahu sifat asli Bara kepada Melissa, dan menurut si Hantu hal tersebut membahayakan hubungan Melissa dan Bara. Jadi dia mengusir lalu membunuh Gaby dan Saykoji agar Melissa tidak tahu sifat asli Bara. Keinginan si Hantu sangatlah kuat dan cara meraih keinginannya sangatlah ekstrim, dia membunuh teman Melissa untuk mempertahankan hubungan Melissa dengan Bara.

Keinginan kuat, check. taktik yang jelas, check. Lalu, apa hambatan nyata dalam mencapai keinginan si Hantu ini? Hambatan si Hantu inilah yang membuat karakter Hantu menjadi karakter berdimensi/yang dalam.

Hambatannya adalah fakta bahwa Bara ingin berlaku mesum kepada Melissa. Jika si Hantu membunuh Bara maka dia gagal dalam mencapai keinginannya. Hal inilah yang membuat si Hantu tidak langsung membunuh Bara. Si Hantu ini tahu bahwa Bara berniat jahat (lagipula dia itu hantu yang bisa nembus tembok) tapi, si Hantu seakan memberi kesempatan kepada Melissa untuk menerima Bara. Siapa tahu Melissa suka esek-esek sama Bara. emoticon-Stick Out Tongue

Si Hantu baru bertindak, ketika Bara mau memperkosa Melissa. si Hantu melempar Bara dari tubuh Melissa dan diapun tidak langsung membunuh Bara. Dia merasuki Bara dulu, mencoba untuk berkomunikasi kepada Melissa. Lalu, dia keluar dari tubuh Bara, masih belum dibunuh. Nah, Lalu ketika Bara mencoba membunuh Melissa, akhirnya si Hantu memutuskan untuk membunuh Bara. Dari situ kita lihat Melissa yang mengingat ibunya melalui flashback.

Tapi hal itu masih belum menjelaskan : kenapa harus sampai diakhir sih, baru Bara dibunuh?

Sepertinya keputusan tersebut berasal dari psikologi seorang hantu yang sudah mati. Si Hantu ibu ini merasa tidak mungkin membahagiakan anak perempuannya yang masih hidup. Sehingga, si Hantu berharap kalau hubungan anaknya, Melissa, dengan Bara membuahkan kehidupan bahagia. Itulah kenapa si Hantu menarik kaki Melissa di kolam, agar Bara menolong Melissa dengan berharap suatu situasi romantis muncul. Si ibu ingin anaknya bahagia.

Kesimpulannya, premis cerita ini jika si Hantu Ibu sebagai karakter utama dalah :

“Seorang ibu yang menjadi hantu ingin anaknya bahagia, dengan cara menjaga hubungan anaknya dengan pacarnya, tapi dia mendapat dilemma karena dia tahu kalau pacar anaknya adalah seorang psikopat”

Titisan Setan : Kasih Ibu yang Terlupakan.

Posted in sayo-itsuTagged
Film Countdown Aplikasi Pembunuh

Film Countdown Aplikasi Pembunuh

Film Countdown Aplikasi Pembunuh – Apa hal yang paling menyenangkan dalam hidup ini. Bermain-main dengan aplikasi adalah salah satunya. Benar-benar, aplikasi-aplikasi yang terpasang di ponsel pintar kita. Panjat sosial dengan media sosial Instagram misalnya. Atau adu urat dengan media sosial Twitter.

Image result for countdown"

Ah, bagaimana jadinya bila sebuah aplikasi dapat menentukan sisa waktu yang kita miliki untuk hidup? Melalui fitur hitung mundur, aplikasi tersebut dapat memberitahu berapa tahun, hari, hingga sisa detik yang kita miliki sebelum kematian menjemput. Paling tidak itulah ide utama yang ditampilkan pada Countdown; sebuah film horror garapan sutradara Justin Dec yang dirilis bulan Oktober 2019 ini. Segera tayang di bioskop Indonesia, berikut ulasan film Countdown? agen bola

Tak ada yang salah dengan hidup Quinn Haris (Elizabeth Lail) selama ini. Sebagai seorang perawat baru di sebuah rumah sakit dan menjalani rutinitasnya sehari-hari. Namun, kenyataan berbicara lain ketika ia mendapatkan dirinya hanya memiliki waktu dua hari untuk bertahan hidup. Haris mengunduh aplikasi tersebut setelah ia mengetahuinya dari salah satu pasien yang ia rawat. Dapatkah Haris lari dari kenyataan bahwa hidupnya telah terancam dan digatungkan pada sebuah aplikasi pencabut nyawa? sbotop

Tidak dapat dipungkiri bahwa ide cerita yang ditawarkan pada film ini cukup menarik dan mengundang penasaran. Apalagi dengan keberadaan ‘aplikasi’ yang menjadi kunci utama dari konsep cerita. Tentunya sangat relevan pada konteks masyarakat sekarang, dimana teknologi digital kini menjadi entitas yang tidak dapat dipisahkan dengan manusia. https://www.mrchensjackson.com

Melalui eksekusi dan penulisan yang baik, film ini memiliki potensi untuk menghadirkan dunia bergaya dystopia tersendiri layaknya jagat Black Mirror di mana eksplorasi terhadap hubungan teknologi dan hidup manusia dapat menjadi hal yang dapat ditonjolkan pada film.

Countdown disebut sebagai salah satu film horor. Tahu dong pastinya, jika kamu menonton film horor, seharusnya ikut terbawa suasana mengerikan di sepanjang ceritanya. Namun, untuk disebut horor pun rasanya kurang tepat. Thriller, tak terasa mencekam sama sekali. Teror psikologi apalagi. Countdown hanya mencoba menempatkan sisi relevansi manusia yang terjebak dalam dunia maya. Orang-orang ini kemudian merasa parno dengan hal-hal yang terjadi di sekitarnya.

Lagi-lagi, film ini pun gagal untuk mengeksplorasi hal tersebut. Alih-alih menghadirkan cerita layaknya jagat Black Mirror, Countdown hanya sekadar menjadi film horror yang mengandalkan jumpscare murahan dan aktor berparas menarik. Sepanjang film, kita dipaksa untuk mengikuti petualangan karakter utama dalam menyiasati strategi sang “iblis pencabut nyawa” yang kebetulan menyambi peran sebagai app developer (pembuat aplikasi). Berbagai cara seperti meretas ke dalam server hingga akhirnya bala bantuan datang dari seorang pendeta nyentrik, karakter utama harus menemukan cara untuk mengalahkan sang pencabut nyawa.

Plot yang ditawarkan juga tidak masuk akal dan bahkan terkesan seperti guyonan. Tokoh utama juga kurang dapat membawa tiap adegan menjadi mencekam, aktinya begitu plain dan kurang meyakinkan. Belum lagi dengan chemistry yang tidak dapat ditemukan di antara tokoh pada film. Penulis juga mencoba untuk memasukan sisi emosional dengan menampilkan latar belakang cerita mengharukan tentang keluarga tokoh utama. Lagi-lagi, sisi emosional ini gagal digali lebih dalam untuk ditampilkan karena kurangnya chemistry antar tokoh.

Walau begitu, Countdown menjadi film horor yang cocok bagi kalian yang ingin terpicu adrenalinenya. Selain itu, sound effet dalam film ini konsisten sehingga sukses membuat suasana semakin mencekam. Berani nonton filmnya?

Posted in sayo-itsuTagged
Film Aladdin Live Action

Film Aladdin Live Action

Film Aladdin Live Action – Tayangan Film Aladdin live-action merupakan remake dari film animasi Aladdin di tahun 1992 buatan Disney. Dalam Film animasinya menjadi film dengan pendapatan terbesar di tahun 1992. Dalam sebuah Film Aladdin ini juga film animasi pertama yang mendapatkan lebih dari 500 juta dollar, sebelum dikalahkan oleh The Lion King yang juga merupakan film animasi dari Disney.

Image result for aladdin"

Agrabah merupakan rumah dari Aladdin (Mena Massoud), seorang pencuri yang sebenarnya memiliki hati yang baik dan penolong kepada orang-orang yang membutuhkan. Dia bertemu secara tidak sengaja dengan Princess Jasmine (Naomi Scott) yang sedang menyamar menjadi rakyat jelata di tengah pasar yang hiruk pikuk. judi bola

Princess Jasmine memberikan roti kepada anak-anak kelaparan, padahal dia tidak punya uang untuk membelinya sehingga dia diminta pertanggung jawaban oleh sang pedagang. Aladdin melihatnya terancam dan menyelamatkan dia. Dikala itu Aladdin jatuh hati pada kecantikan, kebaikan dan semangat Princess Jasmine yang ingin mengubah Agrabah menjadi lebih baik lagi. sbobet

Melihat dari gambar-gambar dari film dan trailer-nya tentu kebanyakan orang menjadi skeptis melihat film live-action-nya tidak sesuai ekspektasi atau imajinasi para penontonnya, terutama kepada sosok Will Smith yang dianggap miscast sebagai dan juga keanehan bentuk saat menjadi jin biru itu. Segala keskeptisan itu bisa dikatakan terpatahkan, karena film Aladdin ini bisa dikatakan melebihi ekspektasi penonton yang sudah cukup rendah itu. www.benchwarmerscoffee.com

Sosok Genie / jin biru yang ditampilkan oleh Will Smith terasa segar dan lucu. Will Smith mampu keluar dari bayang-bayang Genie-nya Robin Williams di film animasi Aladdin dengan tidak berusaha menirunya. Namun dia tidak bisa memberikan kehangatan yang diberikan Robin Williams. Ironisnya lagi Will Smith terasa lebih baik berperan sebagai wujud manusia daripada sebagai Genie.

Mena Massoud dan Naomi Scott memberikan penampilan yang lumayan. Mena dengan kebaikan hati, semangat, kesederhanaannya dan kecanggungannya saat berhadapan dengan Princess Jasmine.

Naomi Scott dengan tekadnya yang kuat supaya bisa lepas dari kungkungan kerajaan yang tidak memperbolehkan wanita menjadi pemimpin, tekadnya juga kuat untuk tidak tunduk kepada perjodohan yang memperlakukan wanita hanya sebagai objek.

Penampilan Mena dan Naomi terbaik ada dalam segi koreografi yang mereka tampilkan dengan sedikit pengaruh tarian India dan beberapa adegan mengingatkan dengan koreografi pada film High School Musical.

Sayangnya dari segi cerita, walau cukup berani untuk sedikit merubah jalan cerita dan memang beberapa menjadi cukup mengena khususnya pada bagian women empowerment itu, namun cerita menjadi terlalu panjang, kurang menarik dan terasa membosankan di beberapa bagian. Kemudian lagi lagu “A Whole New World” yang masuk dalam 100 lagu film terbaik sepanjang masa versi AFI (American Film Institute) dan juga mendapatkan Oscar ini terasa kurang magis baik dari segi sinematografi, efek spesial maupun performa penyanyinya yang dahulu secara sempurna dinyanyikan oleh Brad Kane dan Lea Salonga.

Lagu “Prince Ali” dan “Friend Like Me” juga tidak mampu menyaingi film originalnya yang dahulu terasa lebih lucu dan menyenangkan. Dari segala jalan cerita, film animasinya pun lebih terasa lebih mengalir dan natural, film Aladdin live-action ini terkadang terasa kaku dan artifisial. Kekurangan lainnya adalah sosok Jafar yang diperankan Marwan Kenzari, terasa sangat lemah karakterisasinya, ditambah juga dengan akting yang biasa saja.

Diluar dugaan melebihi ekspektasi penonton yang memang sudah rendah. Film Aladdin live-action ini terasa cukup menghibur dan lucu dengan berbagai lagu-lagu yang menyenangkan. Namun jelas masih belum mampu mendekati kualitas film animasinya di tahun 1992 yang sangat bagus itu.

Posted in sayo-itsuTagged
Film-Traminator-Dark-Fate

Film Terminator Dark Fate

Film Terminator Dark Fate – Terminator: Dark Fate adalah sekuel Terminator terbaik setelah Terminator 2: Judgement Day. Sutradara Tim Miller (Deadpool) membuat berbagai keputusan tepat yang menjadikan Dark Fate lebih ganas, lebih menghibur, dan sedikit lebih segar dibandingkan pendahulu-pendahulunya. Meski begitu, Dark Fate tidak melupakan berbagai elemen ikonik seri Terminator sehingga film berdurasi dua jam ini tetap akan terasa familiar bagi penggemar setia.


Dark Fate sendiri mengambil setting 24 tahun pasca keberhasilan Sarah Connor (Linda Hamilton), John Connor (Edward Furlong), dan ‘Uncle Bob’ T-800 (Arnold Schwarzenegger) meledakkan CyberDyne, pencipta Skynet yang merupakan induk para terminator. Aksi mereka berhasil mencegah kiamat (Judgement Day) yang seharusnya terjadi di tahun 1997 akibat Skynet meledakkan nuklir di berbagai penjuru dunia. Namun, kenyataan berikutnya tidak seindah harapan Sarah dan John. sbobet


Meski Skynet berhasil dihancurkan, Sarah cs ternyata tidak sepenuhnya mencegah kiamat. Sedikit meminjam elemen dari Terminator 3: Rise of the Machine, apa yang dilakukan Sarah cs hanyalah mencegah Skynet terwujud dan menunda kiamat. Dengan kata lain, perang antara manusia dan mesin akan tetap terjadi di masa depan, baik dengan atau tanpa kehadiran Skynet. Kisah di Dark Fate menegaskan bahwa sebanyak apapun Sarah mencegah kiamat, pada akhirnya hal itu akan terjadi juga. hullcrave


Kenyataan kelam itu ditandai dengan kehadiran terminator Rev-9 (Gabriel Luna) dari masa depan. Rev-9 adalah cyborg yang mampu membelah diri dengan cara memisahkan exoskeleton-nya dari inner frame. Exoskeleton Rev-9 memiliki kemampuan setara T-1000 sementara inner frame-nya setangguh T-800 yang menjadikannya salah satu terminator paling berbahaya. premiumbola


Dikirim pengganti Skynet bernama Legion, Rev-9 memiliki misi memburu Daniella Ramos (Natalia Reyes). Seperti John Connor dulu, Daniella diramalkan menjadi pemimpin manusia dalam perang melawan mesin.
Untungnya, bantuan dari masa depan juga hadir untuk melindungi Daniella, sama seperti Kyle Reese datang untuk melindungi Sarah Connor di The Terminator atau ‘Uncle Bob’ melindungi John Connor di Terminator 2: Judgement Day. Pasukan Resistance di masa depan mengirim Grace (MacKenzie Davis), hybrid human-cyborg, untuk melindungi Daniella bersama Sarah Connor. https://www.benchwarmerscoffee.com

Dark Fate terasa lebih baik dibandingkan pendahulu-pendahulunya karena Tim Miller tak memaksa Dark Fate untuk berbeda total. Sebaliknya, sutradara Tim Miller menggunakan semua elemen bagus dari film-film Terminator terdahulu dan kemudian mengolahnya menjadi sebuah produk yang nikmat ditonton. Dark Fate adalah Star Wars: The Force Awakens untuk saga Terminator di mana tidak terasa unik, tetapi tetap mampu membawa franchise ke direksi yang baru.


Salah satu elemen terbaik tersebut adalah Sarah Connor. Ya, selama ini kebanyakan orang mengira key ingredient film Terminator adalah kehadiran T-800 di mana ia nyaris selalu menjadi sorotan utama. Padahal, jiwa franchise Terminator adalah Sarah Connor, bukan T-800 ataupun John Connor.


Ketika seri Terminator masih digarap James Cameron (Titanic, Avatar), kisah utamanya selalu berpusat pada Sarah yang berusaha melindungi orang-orang di sekitarnya sekaligus mencegah kiamat. Dengan kata lain, tanpa Sarah, tidak akan pernah ada kisah terminator versus manusia. Kehadiran Sarah membuat Dark Fate terasa relatable untuk mereka yang menggemari saga Terminator sejak dulu.


Linda Hamilton sendiri belum kehilangan tajinya dalam memerankan Sarah. Meski dua dekade sudah berlalu sejak terakhir kali ia menjadi Sarah Connor, Hamilton tetap mampu menampilkan Sarah yang tangguh, tegas, dan protektif seperti seorang ibu pada umumnya. Ia berhasil mencuri perhatian di berbagai adegan sekaligus menegaskan bahwa Terminator adalah daerah kekuasaannya, bukan milik Arnold Schwarzenegger.


Schwarzenegger, tak lagi menjadi sorotan utama, juga masih handal memerankan cyborg T-800. Walau perawakannya sudah tidak segarang dulu, Schwarzenegger masih mampu menghadirkan T-800 seperti yang kita kenal. Malah, T-800 di Dark Fate adalah salah satu inkarnasi terbaik selain ‘Uncle Bob’ di Terminator 2: Judgement Day.


Meminjam elemen Terminator: Genisys, T-800 di Dark Fate memiliki karakter manusiawi karena bertahun-tahun mempelajari tingkah laku manusia usai menuntaskan misinya. Bertahun-tahun belajar membawa T-800 ke satu titik di mana ia merasa lebih seperti manusia dibandingkan cyborg. Pada akhirnya ia memutuskan untuk mengadopsi nama manusia, Carl, dan hidup bersama-sama manusia menjadi pedagang gorden.


Untungnya, kemampuan bertarungnya tidak lapuk dimakan waktu seperti T-800 di Terminator: Genisys. Carl bisa memberikan perlawanan hebat kepada Rev-9 yang jauh lebih modern. Pertarungan keduanya menampikan berbagai laga keren yang menghiasi sepertiga terakhir Dark Fate. Bahkan, salah satu bagian mampu membuat mata Play Stop Rewatch berkaca-kaca karena sarat dengan homage ke Terminator 2: Judgement Day.


Selain karakter yang keren, salah satu elemen ikonik Terminator yang berhasil diolah kembali oleh Tim Miller adalah kisah besar franchisenya. James Cameron menciptakan franchise Terminator bukan sebagai kisah sci-fi laga semata, tetapi juga drama keluarga.

Di tangan ia, kisah Terminator sarat akan elemen-elemen kekeluargaan mulai hubungan ibu dan anak hingga pentingnya figur seorang ayah. Contohnya, Terminator 2: Judgement Day menampilkan hubungan John Connor dan ‘Uncle Bob’ layaknya seorang anak dan ayah yang bahkan diakui oleh Sarah sendiri di salah satu bagian film.

Posted in sayo-itsuTagged